Kamis, 09 Januari 2014

EGO (RASAKAN DAN KENDALIKAN)



Perjalanan kedalam diri harus melalui proses mengenali ego. Proses ini penting agar ego tak mengendalikan jiwa yang bersih dan bebas. Tidak mengendalikan ego menyebabkan keburukan luar biasa. Keburukan untuk diri sendiri, orang lain, masyarakat, bangsa, bahkan kemanusiaan. Kemajuan yang diraih manusia sesungguhmya adalah jalan pada kehancuran selama kemajuan itu dikendalikan ego.
Karenanya sangat penting kenali ego. Ketahui dan rasakan sang ego bekerja. Amati segala gerak – geriknya. Dengan begitu kita bisa kendalikan ego


¨      SIFAT – SIFAT DASAR EGO ADA (5) LIMA.

PERTAMA, ego senang akan kenikmatan saat itu juga. Ia tidak sabaran. Bila ada sebuah kenikmatan didepan mata, segera ia lakukan. Ia tidak peduli apakah kenikmatan tersebut melanggar aturan yang ia yakini kebenarannya. Ia tak peduli meskipun kenikmatan tersebut merugikan dan menyakiti orang lain. Ia tak peduli meskipun kenikmatan tersebut membuatnya menelantarkan kewajibannya. Maka banyak orang bisa terus facebookan meskipun sebenarnya mereka harus menyelesaikan tugasnya. Banyak anak muda gandrung pornografi meskipun melanggar aturan agama. Kenikmatan menurut ego tersebut dinilai lebih besar, lebih berarti dibanding ketaatan pada aturan.

KEDUA, ego tidak senang atas penderitaan saat itu. Akibatnya, sang ego tak keberatan menanggung penderitaan dimasa depan yang jauh lebih besar. Ia nekat menukar kenikmatan kecil saat sekarang dengan penderitaan besar kelak dikemudian hari. Maka banyak orang yang nekat tidak diet dan tidak olah raga meskipun badannya sudah kegemukan dan penyakitan. Penderitaan diet dan olah raga tak bisa ditanggung oleh sang ego. Para pelaku maksiat, pemabuk, pengguna narkoba terus saja melakukan meskipun mereka tahu,kebiasaan itu akan berakibat kehancuran bagi dirinya. Mereka berfikir, menghentikan itu semua terlalu berat penderitaanya.

KETIGA, ego terkait kuat pada hal – hal material. Menurut ego, hal – hal material adalah yang terpenting dalam hidup. Maka uang, harta, benda – benda, popularitas, jabatan, gelar menjadi tujuan hidup. Orang dikendalikan ego, eksistensi dirinya tergantung hal – hal material saja. Maka, seorang ulama akan marah besar bila ke – ulamaannya tidak dianggap. Pejabat akan menjadi murka bila disamakan dengan rakyat biasa. Artis – artis akan stress berat bila popularitasnya hilang. Orang kaya akan bunuh diri bila kekayaannya lenyap.

KEEMPAT, ego sangat senang membandingkan dirinya dengan orang lain. Dengan begitu, orang yang dikendalikan ego akan terus merasa lebih hebat atau lebih buruk dari orang lain. Bila hartanya lebih banyak, ia akan sombong karena merasa lebih hebat. Bila ia tak punya jabatan, ia akan merasa lebih buruk, minder, merasa kecil dihadapan orang yang punya jabatan. Ego sangat senang atas perbedaan. Merasa sama dengan orang lain adalah musuh ego.

KELIMA, ego itu punya kecerdasan tingkat tinggi. Ia bisa menari di irama gendang apapun (segala situasi). Bersama orang miskin ia senang. Bersama orang kaya ia gembira. Ego bisa membutakan mata orang bodoh. Ego juga bisa mengecoh orang berilmu. Ego mampu menelikung orang tak beriman. Ego juga mampu menipu orang beriman. Makin tinggi ilmu, pengalaman dan keimanan seseorang makin tinggi dan makin haluslah ego mempengaruhi. Kita mungkin bisa lepas dari jeratan ego untuk malas, tapi bisakah kita lepas dari jeratan ego untuk sombong? Dari sombong bisa lepas tapi selalu berhasilkah kita melepas jebakan ego untuk merasa lebih hebat (ujub) ?

Ego bekerja hebat didalam kegelapan. Ia tak berdaya dalam cahaya. Cahaya itu bernama “kesadaran”. Sudahkah kita sadar setiap saat? Al – Qur’an adalah kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju kebenaran dengan izin-Nya. Allah SWT berfirman  :

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Qs. Ibrahim (14) ayat 1)



MENGHARGAI PROSES

Ajr al- umura’ala adzlaliha (mulailah dari yang terkecil)

Ini zaman instant. Banyak orang lebih suka yang instant, mau serba cepat, abaikan proses. Tak jarang keinginan diraih dengan melanggar batas. Enggan diribetkan rentetan proses, nggak mau meniti tangga untuk sukses. Ada yang mencoba melakoni proses tapi melampat lalu tumbang ditengah jalan, memilih jalan pintas suksesnya pun getas.
Sejatinya hidup adalah rangkaian proses. Kaidahnya cukup sederhana jika tangga – tangga itu dinaiki satu demi satu, pasti akan sampai dipuncak jua. Kalau perjalanan harus terseok, ini hanya soal dinamika hidup. Ikuti saja alur dan rute dari hidup dan hokum alam ini. Lewati satu persatu proses demi proses.
Ibrah dari alam, laut adalah muara semua aliran air bahkan dari yang terkecil sekalipun. Berawal dari sumber mata air, mengalir melalui sungai, selokan kecil, parit disawah, berakhir dilautan luas. Hendak bangun rumah ? pasti berawal dari yang terkecil dan mendasar. Gali tanah, bangun pondasi, lekatkan bata demi bata menjadi dinding, pancang tiang demi tiang seterusnya sampai menjadi bangunan yang kokoh. Tak ada istilah dan tak pernah terjadi dalam dunia pertukangan dan arsitektur bikin atap dulu baru bagian lainnya.
Ingin sesuatu secara instant ? bisa saja. Tapi yang instant itu rapuh, lekas raib, tidak meaningfull. Kaya secara instant, orang pun mengambil jalan pintas, merampok, korup atau membungakan uang. Namun, rampok penuh resiko, koruptor harus siap dicokok petugas, membungakan uang entah efek ketidak nyamanan, apalagi yang harus dibayar didunia. Buah harta dari jalan instant, nihil berkah, lekas musnah.
Meski demikian, ini bukan sedang menggagas sikap antipati terhadap segala yang instant. Adakalanya yang instant dibutuhkan, hanya pada kondisi tertentu, dalam situasi gawat darurat jalan pintas demi penyelamatan malah harus. Apalagi jika menyangkut keselamatan jiwa. Masalahnya, ada saja yang berdalih darurat, enggan keluar dari cara instant. Masa darurat berkelanjutan ?
Maka, meraih tujuan dalam hidup perlu mengikuti proses. Mulai dari yang terkecil dan termudah, baru naik ke level yang sedikit susah dan paling susah. Jangan sebaliknya. Tengok saja apa yang dijalani seorang lifter. Ia mula – mula berlatih mengangkat barbell dari yang paling ringan. Secara bertahap ia meningkatkan bobot latihannya dari yang paling ringan sampai beban terberat. Jika pada awal latihan ia langsung mengangkat beban paling berat dijamin “bungkruh” jempor.

Rabu, 08 Januari 2014

TAUTAN HATI



Langkah selanjutnya adalah ‘mempertautkan hati’. Menyatukan ego yang terpisah. Karena kebersatuan bukanlah sekedar berkumpulnya dua ego yang berbeda dalam satu ‘rumah’, melainkan meleburkannya.
            Bagaikan dua insan yang sedang di mabuk asmara, dan kemudian memutuskan untuk menikah membangun sebuah mehligai cinta. Di dalam mahligai itulah dua ego berbeda, untuk mempertautkan hati yang berbeda.
            Apa yang harus dilakukan? Apakah sang istri yang harus mengikuti ego sang suami, ataukah sang suami yang mengikuti ego sang istri?
            Ketika suami mengharap sang istri mengikuti egonya sendiri, yang terjadi adalah ‘penjajahan cinta’. Ia sebenarnya tidak mencintai istri, tetapi ‘menjajah’ agar mau tunduk kepadanya. Ia tidak mengakui bahwa sang istri adalah ego yang berbeda.
            Begitu pula sebaliknya, ketika istri menghendaki sang suami memenuhi segala kemauan egonya, ia juga sedang memaksa ego suami ke dalam penguasaan egonya sendiri. Ini bukan mekanisme cinta dan kasih sayang, melainkan mekanisme ‘penjajahan’. Hasilnya, bukan kebahagiaan, melainkan pertengkaran, perkelahian, dan penderitaan. Masing-masing ingin menguasai yang lain.
            Cinta tidak menawarkan pertengkaran, perebutan kekuasaan, dan penderitaan. Cinta menawarkan jalan keseimbangan tanpa kemenangan, tanpa kekalahan, tanpa kesombongan, tanpa keserakahan. Cuma kebahagiaan.
            Bagaimana bisa demikian? Kuncinya Cuma satu, jangan menonjolkan ‘aku’, jangan larut dalam ego masing-masing. Mesti mempertautkan hati, meleburkan dua pribadi yang berbeda menjadi satu. Hanya dalam cinta atas nama kasih sayang.
            Mencintai adalah memberi, bukan menuntut. Kasih sayang adalah ‘mengasihi’ dan ‘menyayangi’. Pemberian bakal melimpahkan kesenangan dan kebahagiaan. Tuntutan menghasilkan rasa tertekan dengan segala persoalannya.
            Kalau kedua ego selalu memberikan sesuatu atas nama cinta kepada pasangannya, maka yang ada Cuma rasa senang dan bahagia. Tetapi ketika masing-masing menonjolkan tuntutan, maka yang muncul adalah ketidak puasan. Karena tidak ada orang yang bisa mwmuaskan ego kita.
            Hati bukan lagi bertaut, melainkan berhadap-hadapan untuk saling menghakimi dengan tuduhan-tuduhan yang. Pertautkanlah hati dengan cara ‘menyerahkan’ hati kita kepadanya. Maka ia akan membalas dengan ‘menyerahkan’ hatinya kepada kita. Itulah makna cinta yang sejati, berserah diri untuk kebahagiaan orang yang di cintai.
Maka yang berbahagia bukan hanya yang di cintai, melainkan justru orang yang mencintai. Ia yang lebih banyak merasakan kebahagiaan. Jika orang yang di cintai tidak membalasnya dengan rasa cinta , NO PROBLEM, justru ia yang akan kehilangan kebahagiaan, tidak merasakan kebahagiaan, ia akan hanya berkutat dengan ketidak puasan-ketidak puasan egonya. Sekali lagi, kebahagiaan hanya milik orang-orang yang bisa mencintai.
Bagaimanakah ‘mempertautkan hati’ dengan Allah? Apakah sama dengan mempertautkan hati dua insan yang sedang di mabuk cinta?
Tentu saja tidak sama persis, tapi memiliki kemiripan. Pada intinya, mempertautkan hati hati seorang hamba dengan Tuhannya adalah sebuah proses ‘berserah diri’. Bukan sederet tuntutan dalam do’a yang panjang untuk di cintai. Karena, sebenarnya Allah sudah selalu mencintai kita, dan akan seterusnya mencintai kita.
Tetapi, kenapa kita sering kali tidak bisa merasakannya? Karena kita belum mencintai-Nya. Ingatlah, bahwa rasa bahagia hanya bisa muncul pada orang-orang yang sedang jatuh cinta. Yang mencintai, bukan yang di cintai. Semakin menuntut, semakin tidak puas. Sebaliknya, semakin berserah diri, semakin puaslah kita.
Jadi ketika kita mencintai Allah, tiba-tiba kita bisa merasakan betapa besar cinta-Nya kepada kita. Betapa banyaknya yang telah Ia berikan kepada kita. Lalu kemudian kita merasakan nikmat yang luar biasa terhadap segala yang Ia berikan kepada kita.
Hal demikian, tidak akan pernah bisa di rasakan oleh orang-orang yang tidak mencintai. Apalagi yang selalu menuntut untuk di cintai. Karena orang yang menuntut selalu berpikir tentang apa yang akan di dapat, bukan apa yang sedang di terima. Dia tidak pernah bisa merasakan apa yang telah dia miliki, tapi apa yang dia angan-angankan. Ya..! dia hanya hidup dalam angan-angan egonya belaka.
Disinilah kuncinya, kenapa kita selalu merasakan ketidak puasan. Bahkan, kadang merasa gagal dan bahkan menderita karenanya. Sepertinya hidup kita jauh dari rasa tenteram dan damai. Jawabanya, karena tuntutan kita kepada Allah semikian besarnya. Karena kita tidak belajar menyerahkan hasil atas keputusan-keputusan  dan keinginan kita kepada-Nya saja. Kita serakah, padahal semua itu hanyalah fatamorgana, semu belaka.


“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al-Baqarah(2) : 96)

Ayat diatas menggambarkan betapa banyak manusia demikian serakahnya terhadap kehidupan dunia. Mereka terjebak dalam fatamorgana, seakan-akan dunia ini bisa memuaskan dan membahagiakan selama-lamanya. Sehingga mereka ingin hidup seribu tahun. Kata Allah mereka keliru, sebab umur panjang itu tidak akan melepaskan mereka dari penderitaan. Manusia tidak bisa terlepas dari sifat uzur dan penyakit-penyakit degeneratif. Penyakit tua, akan tetapi angan-angan mereka terlalu melambung. Mengejar kepuasan tiada batas, yang tiada akan pernah bisa memenuhi ego mereka.
Jadi, apa yang mesti dilakukan? Hanya satu, serahkan segala hasil kepada Allah saja. Kita Cuma berusaha untuk mencapainya tanpa harus tejebak oleh angan-angan palsu. Allah pasti akan memilihkan yang terbaik buat kita. Berserah dirilah hanya kepada Allah.


“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”(Qs. Al-Hadid(57) : 20)


“Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (Qs. Al-Fathir(35) : 5)



“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Qs. Ali Imran(3): 83)


“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Az-Zumar(39) : 38)